Postingan

Nasi Kotak Karel

Sore tak akan pernah lengkap tanpa kehadiran senja di ufuk barat mengantar matahari sang penguasa siang menuju peraduannya. Seperti sore biasanya di bulan Ramadhan, Karel masih mengaji di masjid. Sudah sejak satu jam yang lalu Karel mempelajari berbagai macam bentuk tajwid. Tak terhitung pula sudah  berapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak memahami penjelasan dari  ustadz Yusuf, guru mengajinya di masjid. Sepuluh menit lagi adzan berkumandang, kakek Ahmad, mengecek pengeras suara di masjid apakah berfungsi dengan baik. Kali ini gilirannya menjadi muadzin. Ia memandang jam dinding sejenak lalu duduk di atas sajadah yang sudah ia gelar. Karel semakin gelisah, perutnya sudah sangat keroncongan sejak siang. Shubuh tadi ia tak sempat bangun untuk makan sahur, kantuk yang teramat sangat dan lelah karena menonton pertandingan final semalam membuatnya kembali memejamkan mata saat ibunya membangunkan sahur. Karel duduk sila menunggu adzan maghrib. S...

Tentang Segalanya

Gambar
  Matanya terlihat sayu menatap rintik hujan yang turun dari balik jendela. Hembusan angin seakan terus menemani dirinya dalam keheningan. Ketika kemudian aku mulai melangkah menuju kamar itu dan bertemu menemuinya. Seulas senyum penuh ketulusan terpancar dari bibirnya. “Masuk, nak.” Suara khasnya terdengar jelas dari pintu kamar tempatku berdiri. Setiap bertemu dirinya, ingatanku akan sepenggal kisah masa lalu itu terus terbayang dalam pikiran. Pengalaman yang pada akhirnya membuat semua kini terasa lebih bermakna. Tentang perjuangan, tentang pembuktian, juga tentang ketulusan. *** Sore itu, seperti biasa aku mendatangi sebuah masjid dekat rumah dan berkumpul bersama teman satu komunitas. Kegiatan mengajar mengaji masih terus berjalan sejak pertama kali dibangunnya tempat penuh berkah tersebut. Remaja daerah sekitar rumahku banyak yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu dan membentuk komunitas remaja masjid. Aku pun terlibat menjadi salah satu pengajar...

Berubah Sudah Semua

Gambar
Matahari yang sama dengan 2 tahun lalu. Kami berdua duduk di gubug reot yang tak jelas pemiliknya ini sembari melihat rumput gajah tak terawat, sama seperti ketika pertama kali kami menemukan tempat ini. Bedanya, dulu rerumputan ini dapat kami lihat hingga 1 kilometer pandangan mata dan diikuti dengan rumah-rumah bilik masyarakat urbanisasi. Sedangkan kini hanya rumput gajah sejauh 300 meter yang kemudian tertabrak oleh balok-balok beton yang menjulang. “Berubah sudah semuanya.” Kalimat pertama yang terlontar darinya menjadi pembuka pertemuan kami. “Apa kabar wanita pemecah rekor UN kebanggaan sekolah?” “ Not bad . Lalu apa kabar mahasiswi universitas terbaik nusantara ini?” Balasku sambil terkekeh dan disambut dengan tawa riangnya. Pertemuan kali itu sekaligus menjadi perpisahan di antara kami. Kami sama-sama akan mengembara ke negeri orang. Kami akan berada di dua benua yang berbeda. Dia akan pergi ke “negeri seribu danau” dan aku ke “negara seribu satu larangan”. “Apa k...