Tentang Segalanya
Matanya terlihat sayu menatap rintik hujan yang turun dari balik jendela. Hembusan angin seakan terus menemani dirinya dalam keheningan. Ketika kemudian aku mulai melangkah menuju kamar itu dan bertemu menemuinya. Seulas senyum penuh ketulusan terpancar dari bibirnya.
“Masuk, nak.” Suara khasnya terdengar jelas dari pintu kamar tempatku berdiri.
Setiap bertemu dirinya, ingatanku akan sepenggal kisah masa lalu itu terus terbayang dalam pikiran. Pengalaman yang pada akhirnya membuat semua kini terasa lebih bermakna. Tentang perjuangan, tentang pembuktian, juga tentang ketulusan.
***
Sore itu, seperti biasa aku mendatangi sebuah masjid dekat rumah dan berkumpul bersama teman satu komunitas. Kegiatan mengajar mengaji masih terus berjalan sejak pertama kali dibangunnya tempat penuh berkah tersebut. Remaja daerah sekitar rumahku banyak yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu dan membentuk komunitas remaja masjid. Aku pun terlibat menjadi salah satu pengajar di sana. Semangatku untuk bertemu anak-anak tentu tak kalah dengan semangatnya mereka, meskipun aku tengah disibukkan dengan persiapan ujian nasional yang akan dilaksanakan pertengahan tahun itu.
Setibaku di rumah usai dari masjid, ibu sudah menunggu dari depan pintu dan duduk di kursi teras. Aku mulai tertunduk, sudah hafal apa yang akan dilakukan ibu. Ocehan penuh amarah terus diucapkannya kepadaku. Ibu selalu menuduhku melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat sehingga sering pulang menjelang malam. Kemarahan ibu itu bukan untuk pertama kalinya untukku. Setiap kali ibu melakukannya, ingin sekali rasanya kukatakan pada ibu mengenai hal yang sebenarnya. Namun, aku pikir untuk apa aku menjelaskannya dan justru nanti semakin memperparah keadaan. Aku juga belum memiliki keberanian yang lebih untuk berbicara soal itu di depan ibu.
Entah kenapa, hanya diriku yang selalu diperlakukan ibu seperti itu. Padahal, kakak laki-lakiku tak pernah sekalipun dibentak oleh ibu. Dirinya selalu disayang dan dibanggakan di depan orang banyak ketika ibu berkumpul dengan teman-temannya. Sedangkan aku bagaikan debu yang tak terlihat dan sampah yang sudah terbuang. Baginya, diriku bukan keberadaan yang penting. Memang, jika dilihat dari segi prestasi, aku terlampau jauh dari kakak. Ia selalu mendapat peringkat utama di kelasnya. Sementara diriku hanya anak biasa yang selalu mendapat nilai pas-pasan.
Tetapi kalau pun memang itu masalahnya, apa sebegitu parahnya diriku ini hingga ibu terus marah kepadaku? Aku terus berada pada posisi tertekan setiap harinya. Tidak ada satu pun orang yang mendukungku. Akan tetapi, setidaknya aku masih beruntung bahwa aku masih dalam lingkungan yang baik. Aku tetap disibukkan dengan kegiatan positif di sekitar rumah dengan mengajar dan masuk komunitas remaja masjid.
Hingga suatu ketika, ada saudara dari ayah yang berkunjung ke rumah untuk bertemu dengan ibu. Aku lah yang membuatkan teh untuk mereka sesuai dengan suruhan ibu sebelumnya kepadaku. Aku pun mulai masuk ke ruang tamu untuk mengantarnya. Tepat saat itu, tante mengatakan sesuatu di depan ibu sekaligus diriku.
“Oh, inikah yang namanya Kayra? Anak yang tidak bisa apa pun itu kan? Bahkan menjadi juara kelas saja tidak pernah. Kamu harus tahu, bahwa dirimu di keluarga ini hanya membuat...” belum sempat aku mendengar ucapan terakhir tante, ibu segera menarik tanganku yang masih membawa dua cangkir teh dan membawaku masuk ke dalam kamar.
“Kamu belajar saja untuk ujian nanti, biar ibu yang membawa teh ini untuknya.” Kata ibu tegas sembari meraih teh buatanku dan pergi ke ruang tamu kembali.
Terdengar jelas suara pecahan kaca dari arah sana. Samar-samar aku mendengar teriakan ibu mengusir tante dari rumah. Jelas sekali bahwa saat itulah ibu membela diriku. Ibu telah menyuruhku masuk kamar agar aku tidak mendengar lagi ucapan dari tante yang merendahkanku. Meskipun ibu tetap melakukannya dengan cara yang keras, kuakui bahwa terdapat kasih sayang yang tulus di dalam hati ibu yang diberikannya padaku.
Hari-hari berikutnya, ibu tetap bersikap seperti sebelumnya. Hanya saja, kemarahan ibu terhadapku sedikit berkurang dari biasanya. Aku terus berusaha untuk membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi anak yang membanggakan dirinya. Menjelang ujian, aku terus giat belajar agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Melihat usahaku tiap harinya, mungkin ibu mulai merasa ada perubahan dari diriku. Ia terlihat senang dan terkadang masuk ke dalam kamarku untuk mengajak makan malam bersama terlebih dahulu. Sungguh ini di luar dugaan, bahkan ibu sempat berkata kepadaku jika nanti aku dapat peringkat tiga besar, apa pun akan ibu lakukan kepadaku.
Tibalah hari pengumuman, tak disangka aku mendapatkan peringkat kedua! Sebuah hasil yang tidak pernah aku bayangkan ternyata menjadi sebuah kenyataan. Ibu yang mengetahui hal tersebut, juga tak kalah kagetnya. Ia tersenyum sumringah melihat diriku yang mendapat nilai sebaik itu. Perjuanganku telah terbalaskan. Dan inilah waktu terbaik untuk berkata pada ibu mengenai hal yang selalu kupendam dan ingin kuutarakan. Mengingat janji ibu yang akan melakukan apa pun padaku jika aku bisa mendapat peringkat tiga besar.
“Bu, selama ini aku telah mencoba masuk sebuah komunitas di masjid dekat rumah.” Kataku lirih.
“Komunitas macam apa itu? Jangan anggap nilai tinggi yang kau dapatkan ini bisa membuat dirimu menjadi seenaknya menghabiskan waktu dengan sia-sia, Kay. Sudah ibu siapkan agar kamu les bersama kakak tiap sore nantinya.”
“Kegiatan yang kulakukan bermanfaat, bu. Itu hanya perkumpulan untuk mengajar anak-anak mengaji.” Aku tetap mencoba membela diri.
“Bahkan usahamu sekeras apa pun tidak akan menyamai kakakmu sedikit pun! Dan yang kau lakukan justru menghabiskan waktu dengan hal tidak berguna seperti itu. Jangan bicara aneh-aneh dan langsung belajar sana!” Lantas ibu pergi meninggalkanku begitu saja.
“Ibu tidak bisa mengatakan seenaknya bahwa hal itu tidak berguna!” Teriakanku membuat ibu berbalik arah dan menoleh padaku. “Ibu saja yang tidak mau mengerti! Ibu yang selalu meremehkanku! Tidak bisakah ibu sekali saja peduli padaku? Aku bukan orang yang bisa diperlakukan semau ibu!” Aku terlalu marah hingga tak kuasa menahan tetesan air mata, segera kumasuk ke kamar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
“Kayra! Cepat keluar!”
Bentakan ibu tidak kuhiraukan lagi. Kubiarkan diriku terbaring di kasur. Janji ibu padaku waktu itu hanyalah sebuah perkataan omong kosong. Tangisanku terus meluap tanpa henti. Bukan karena ibu tidak membolehkanku ikut komunitas tersebut, tetapi kenyataan bahwa ibuku adalah orang yang seperti itu. Aku merasa sedih dan kecewa. Sebenarnya dimana tempat aku mendapatkan kebahagiaan?
***
“Maaf bu, aku baru pulang sekarang di tengah hujan sore ini. Sudah dari dua hari kemarin, pekerjaanku di kantor semakin sibuk.” Aku berjalan masuk kamar dan duduk di sampingnya.
“Tidak masalah, Kay.” Jawab ibu dengan nada lembut disertai senyuman tulusnya.
Ya, kisah masa lalu itu kini sudah berubah sepenuhnya. Ibu telah menyadari juga memahami arti dari perjuangan dan pembuktianku. Ibu membalas semuanya dengan ketulusan kasih sayang penuh makna. Dan tempat kebahagiaanku, berada pada dirinya.

Komentar
Posting Komentar