Nasi Kotak Karel
Sore tak akan pernah lengkap tanpa kehadiran senja di ufuk barat mengantar matahari sang penguasa siang menuju peraduannya. Seperti sore biasanya di bulan Ramadhan, Karel masih mengaji di masjid. Sudah sejak satu jam yang lalu Karel mempelajari berbagai macam bentuk tajwid. Tak terhitung pula sudah berapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak memahami penjelasan dari ustadz Yusuf, guru mengajinya di masjid.
Sepuluh menit lagi adzan berkumandang, kakek Ahmad, mengecek pengeras suara di masjid apakah berfungsi dengan baik. Kali ini gilirannya menjadi muadzin. Ia memandang jam dinding sejenak lalu duduk di atas sajadah yang sudah ia gelar. Karel semakin gelisah, perutnya sudah sangat keroncongan sejak siang. Shubuh tadi ia tak sempat bangun untuk makan sahur, kantuk yang teramat sangat dan lelah karena menonton pertandingan final semalam membuatnya kembali memejamkan mata saat ibunya membangunkan sahur.
Karel duduk sila menunggu adzan maghrib. Sejak lima menit yang lalu pelajaran mengaji sudah selesai, semua murid mengaji duduk berberis di teras masjid menunggu waktu berbuka. Di depan Karel sudah ada sekotak nasi, es buah, dan air mineral. Ia hanya dapat menghela nafas memandang takjil bebuka puasa yang sudah disediakan. Mukanya pucat, badannya lemas tak bertenaga, matanya sayu, rasanya ia sudah tak kuat lagi. Beberapa anak memilih bermain di sekitar masjid menunggu kek Ahmad mengumandangkan adzan tanda berbuka puasa. Biasanya Karel ikut bermain gasing atau kelereng bersama beberapa anak lainnya, tapi kini ia sedang tak bersemangat.
“Alahuakbar, Allahuakbar.” Suara lantang kek Ahmad terdengar di seluruh penjuru masjid. Demi mendengar suara adzan, Karel menegakkan tubuhnya dan membuka matanya lebar-lebar. Ia segera berdo’a mengucap syukur pada Sang Pencipta karena akhirnya bisa menyelesaikan puasa hari ini. Segelas es buah di hadapannya segera ia sikat. Rasanya segar sekali mengalir ke kerongkongan.
“Ya Allah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.” Ucap Karel lirih sembari membuang gelas plastik kosong bekas es buah tadi di tempat sampah.
Beberapa anak masih menikmati takjil berbuka puasa, mereka semua tampak sangat bahagia. Karel melangkahkan kaki menuju tempat wudhu, ia mengambil air wudhu bersiap untuk melaksanakan shalat berjamaah. Sebagian anak yang sudah beranjak dewasa mengikutinya mengambil air wudhu dan bersiap shalat maghrib. Karel mengisi shaf pertama, memilih barisan shalat di sebelah ustadz Yusuf.
Selesai shalat, tak lupa Karel menengadahkan kedua tangannya untuk berdo’a pada sang Khaliq. Ketika hendak berdiri meninggalkan shaf shalat, ustadz Yusuf menahannya. “Kamu tidak shalat rawatib, Karel?” ustadz Yusuf memandang Karel, yang dipandang hanya diam. Karel segera bersiap melakukan shalat rawatib. Padahal sedari tadi perut nya yang keroncongan semakin menjadi-jadi. Ia sudah berniat segera pulang ke rumah dan menikmati nasi kotak tadi.
Selesai shalat, Karel berpamitan pada ustadz Yusuf akan pulang duluan. “Mau pulang ya? Nah, sebelum pulang, tolong kamu lipat karpet masjid yang tadi untuk berbuka yang di teras. Ustadz mau melipat karpet yang di dalam.” Karel hanya mengangguk, tidak mungkin ia menolak untuk menolong ustadz Yusuf. “Tak apalah nasi kotaknya nanti dulu yang penting segera membereskan karpet dan pulang.” Gumam Karel.
“Ustadz karpetnya sudah rapih, aku pulang dulu ya?”
“ya hati-hati, Rel. salam buat ayah dan ibu di rumah.” Ustadz Yusuf mengunci pintu masjid, mengambil sapu kemudian menyapu lantai masjid.
Bulan purnama menyinari malam yang gelap, memberi penerangan dengan pantulan cahaya matahari. Karel mempercepat langkah kakinya menuju rumah. Pasti ibunya sudah khawatir. Tidak seperti biasanya, selepas shalat maghrib berjamaah Karel langsung pulang ke rumah. Belum lagi perutnya yang tidak diisi sejak shubuh tadi, membuat Karel berlari-lari kecil sepanjang jalan menuju rumahnya.
Jalanan tampak lengang, semua jamaah maghrib juga anak-anak yang mengaji pasti sudah pulang. Mereka akan keluar nanti ketika tiba waktu shalat taraweh. Saat tiba di ujung gang, Karel mendengar suara tangisan, bulu kuduk nya merinding. Ia segera membuang segala pikiran negatif, di bulan Ramadhan seperti ini semua setan dibelenggu supaya tidak mengganggu manusia, jadi suara tangisan itu bukan suara hantu atau semisalnya. Rasa penasarannya membuat ia memberanikan diri melihat suara tangisan siapa itu. Seorang anak kecil duduk dibalik semak-semak menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak. Karel mengucap syukur, untung saja bukan yang aneh-aneh.
“Kamu sedang apa disini, Dek?” Anak kecil itu hanya memandang Karel, tubuhnya naik turun karena sesenggukan.
“Kamu kenapa nangis?” Karel mengajukan pertanyaan kedua kepada anak kecil itu. Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaan Karel.
“Rumah kamu dimana?” Tetap saja anak itu tidak menjawab pertanyaan Karel. Anak itu tetap menangis sambil memegangi perutnya.
“Kak, aku laper mau makan.” Anak kecil itu memandang Karel dengan wajah memelas, matanya berkaca-kaca. Karel terenyuh, bagaimana bisa di bulan suci ini bulan yang penuh berkah masih saja ada orang yang kelaparan. Ia memandang nasi kotak yang ia genggam dengan kedua tangan. Haruskah ia memberikannya pada anak itu? Tapi ia juga kelaparan dari pagi belum makan.
“Nih, buat kamu. Jangan nangis lagi ya.” Karel memberikan nasi kotaknya untuk anak kecil itu. Tak apalah ia masih bisa makan masakan ibunya di rumah. Anak kecil itu terlihat senang menerima nasi kotak pemberian Karel.
Sesampainya di rumah, benar saja ibunya sudah menunggu. Ia tampak sangat khawatir. Karel menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia mengernyitkan dahi melihat sekotak nasi tergeletak di atas meja belajarnya. Karel segera menanyakan ibunya perihal nasi kotak tersebut. Ibunya hanya geleng-geleng menjawab pertanyaan Karel.
“Bu, beneran ibu ngga beli nasi kotak ini buat aku?” Karel berdiri di hadapan ibunya dengan wajah bingung memegang nasi kotak yang ia temukan di kamarnya.
“Engga Karel, kamu udah tanya berapa kali. Lagian itu nasi kotaknya bukannya dapet dari masjid?” Ibu duduk di samping Karel, memperhatikan sikap bingung anaknya.
Karel menceritakan kepada ibunya bahwa ia sudah memberikan nasi kotaknya kepada seorang anak kecil yang menangis kelaparan di ujung gang. “Aneh banget, kok bisa balik lagi ya, bu?” Karel bertanya kepada ibunya yang masih duduk di sampingnya.
“Ibu juga ngga tahu. Yaa mungkin aja itu udah rezekinya kamu.” Ibu mengelus kepala Karel dengan lembut sambil tersenyum.
Komentar
Posting Komentar