Berubah Sudah Semua



Matahari yang sama dengan 2 tahun lalu. Kami berdua duduk di gubug reot yang tak jelas pemiliknya ini sembari melihat rumput gajah tak terawat, sama seperti ketika pertama kali kami menemukan tempat ini. Bedanya, dulu rerumputan ini dapat kami lihat hingga 1 kilometer pandangan mata dan diikuti dengan rumah-rumah bilik masyarakat urbanisasi. Sedangkan kini hanya rumput gajah sejauh 300 meter yang kemudian tertabrak oleh balok-balok beton yang menjulang.
“Berubah sudah semuanya.” Kalimat pertama yang terlontar darinya menjadi pembuka pertemuan kami. “Apa kabar wanita pemecah rekor UN kebanggaan sekolah?”
Not bad. Lalu apa kabar mahasiswi universitas terbaik nusantara ini?” Balasku sambil terkekeh dan disambut dengan tawa riangnya.
Pertemuan kali itu sekaligus menjadi perpisahan di antara kami. Kami sama-sama akan mengembara ke negeri orang. Kami akan berada di dua benua yang berbeda. Dia akan pergi ke “negeri seribu danau” dan aku ke “negara seribu satu larangan”.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu? Kau bahkan bisa mendapatkan beasiswa yang lebih baik dariku. Dengan negara yang lebih keren dan beasiswa yang lebih besar.” Tanyanya penasaran. Seulas senyum kuberikan.
“Dari dulu kau memang selalu mengkhawatirkanku, Tih. Tetapi tenang, ini keputusanku yang sudah bulat. Dan pendidikan disana juga bagus, bukan?” Kataku meyakinkan.
**
Tahun kedua di negeri pengembaraan tepat dimulai hari ini.
“Harus ada penanganan serius. Jika tidak segera dilakukan, penyakitnya bisa memperparah dan meluas. Tetapi ini bukan operasi biasa, Ratih. Risiko yang harus ditanggung sangat besar. Kami harus mengatakan ini padamu agar bisa menjadi persiapan sekaligus bahan pertimbangan.” Dokter senior itu berbicara dengan muka yang sangat serius. Aku hampir tertawa ketika mendengar dua kalimat pertamanya. Namun ternyata ini bukan lelucon atau mimpi. Aku mengidap kanker.
Aku bingung hal apa yang harus kulakukan. Aku meminta waktu kepada dokter untuk memikirkan keputusan. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah mengambil keputusan saat emosiku sedang tidak stabil. Aku butuh orang yang dapat dimintai saran dengan tepat. Tetapi siapa? Orang tuaku rasanya kurang mungkin diberitahukan tentang kabar ini sekarang. Mereka bisa jadi terlalu kaget dan khawatir terhadapku. Kekhawatiran mereka akan menjadi beban tambahan bagiku. Aku butuh orang lain. Satu nama terlintas dalam pikiranku. Sosok penyemangat dalam hidupku yang tidak pernah meragukan kemampuanku. Sosok nomor dua setelah keluargaku yang kuat ikatan batinnya denganku.
Aku tekan nomor telepon seseorang yang jauh di sana. Kuceritakan semuanya padanya. Kulimpahkan seluruh emosiku. Dan betapa perhatiannya dia padaku, dia langsung memesan tiket untuk menemuiku.
Keputusan tentang penyakitku harus segera diberikan besok pagi. Aku masih dalam keadaan bingung. Semua ini berjalan sangat cepat dan membawa perubahan yang sangat signifikan. Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Dialah yang daritadi aku nanti. Mutia, teman sekampusku dengan gaya khasnya masuk ke dalam kamarku. Seketika dia langsung memelukku tanpa mengatakan apapun. Aku tahu dia sedang menahan air matanya tumpah di hadapanku, itu terasa dari tarikan napasnya yang dibuat lebih pelan dan dalam serta jantungnya yang berdegup kencang. Dia membimbingku untuk merasakan ketenangan dengan menyebut nama-Nya. Ia juga mengingatkanku untuk shalat istikharah, shalat untuk mencari petunjuk ketika harus memilih satu di antara dua pilihan. Hati yang mulanya terasa kosong tetapi semrawut itu seketika menjadi tentram.
Aku sudah terbaring untuk menjalankan apa yang sudah aku putuskan beberapa hari lalu. Orangtua dan saudaraku pasti sedang mendoakanku di luar sana. Aku hanya bisa pasrah untuk hasilnya nanti. Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah mendoakanku. Terlintas kejadian beberapa menit sebelumnya, ketika Ratih yang tiba-tiba datang dengan ekspresi marah sekaligus khawatir mendobrak pintu kamarku ketika suasana sedang hening berdoa. Teriakan-teriakan tidak terima ia lontarkan. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Permintaan maaf rasanya sudah tak layak aku layangkan padanya. Menangis menjadi pilihan terakhirku. Melihatku menangis, keluargaku pun khawatir semangatku untuk bertahan menjadi kendor. Suster membawaku keluar dan keluargaku menenangkan Ratih. Aku tahu, Mutialah yang memberitahu ini kepada Ratih. Tetapi ini bukan salahnya, aku yang harus bertanggungjawab.
Aku tidak pernah melihat Ratih semarah ini padaku. Dia memberontak dan mengejarku hingga pintu ruang operasi. Aku tahu aku sudah sangat bersalah padanya dan dia pasti merasa tidak dianggap olehku.
“Berubah sudah semuanya.” Kalimat terakhir yang aku dengar dari Ratih ketika pintu ruang operasi akan ditutup. Dengan wajah kecewa, kulihat dia membalikkan badannya dan terduduk lemas di kursi.
Obat bius mulai bereaksi padaku. Aku akan berusaha untuk bertahan. Banyak hal yang masih harus kulakukan, terutama meminta maaf padanya. Halusinasi sudah dimulai. Suara-suara alat operasi terdengar.
Teringat keinginanku untuk kuliah di universitas terbaik di nusantara yang kandas karena keinginan Ratih untuk masuk ke universitas yang sama, sedangkan kuotanya hanya ada satu. Ingin mengamuk rasanya, tetapi ini keputusanku. Aku tak kuasa melihatnya memperlihatkan betapa menakjubkan kampus barunya itu. Memang aku yang tidak bilang ke Ratih tentang apa yang aku inginkan. Aku memilih untuk menghilang dan fokus kepada apa yang ada di hadapanku. Aku ikhlas melihat sahabatku bahagia.
Terlintas pula betapa senangnya aku ketika mendapatkan email bahwa aku diterima dalam program beasiswa ke Finlandia, negara yang nomor satu ingin aku kunjungi. Aku lepas untuk kali kedua cita-citaku itu untuk sahabatku yang juga ingin ke sana.
Hingga kabar duka itu muncul di hadapanku, tak tega rasanya aku mengecewakan kebahagiaan sahabatku. Aku tak ingin mengganggunya dengan masalahku. Maafkan aku yang menyembunyikan ini padamu.
Air mata terasa hangat melintasi mukaku. Ini sudah waktunya. Semuanya sudah berubah, kawan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Kotak Karel

Kenangan Masa SMA