Nasi Kotak Karel
Sore tak akan pernah lengkap tanpa kehadiran senja di ufuk barat mengantar matahari sang penguasa siang menuju peraduannya. Seperti sore biasanya di bulan Ramadhan, Karel masih mengaji di masjid. Sudah sejak satu jam yang lalu Karel mempelajari berbagai macam bentuk tajwid. Tak terhitung pula sudah berapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak memahami penjelasan dari ustadz Yusuf, guru mengajinya di masjid. Sepuluh menit lagi adzan berkumandang, kakek Ahmad, mengecek pengeras suara di masjid apakah berfungsi dengan baik. Kali ini gilirannya menjadi muadzin. Ia memandang jam dinding sejenak lalu duduk di atas sajadah yang sudah ia gelar. Karel semakin gelisah, perutnya sudah sangat keroncongan sejak siang. Shubuh tadi ia tak sempat bangun untuk makan sahur, kantuk yang teramat sangat dan lelah karena menonton pertandingan final semalam membuatnya kembali memejamkan mata saat ibunya membangunkan sahur. Karel duduk sila menunggu adzan maghrib. S...