Kenangan Masa SMA

 

Hai aku Rena. Aku akan bercerita tetang pengalamanku di masa putih abu- abu. Dimana masa itu adalah awal dari segalanya. Awal banyak tugas numpuk, awal mengenal apa itu makalah dan Karya Ilmiah Remaja dengan segala isi, bab dan penelitiannya. Awal merasakan cinta, walaupun itu hanyalah cinta monyet dan biasanya bersifat sementara, juga awal pulang pergi naik motor. Dan ngga Cuma ke sekolah, bahkan kemana-mana. Dari ke mall, kios, pasar, bahkan ke tempat yang deket aja naiknya motor. Biasanya gara-gara gengsi, padahal sim aja belum punya. Kata kebanyakan orang, masa ini adalah masa yang paling berkesan.

Pagi itu, di hari Senin yang cerah adalah saat yang sangat kunanti- nantikan. Karena di hari itulah awal aku masuk Sekolah Menengah Atas. Dengan semangatnya aku berangkat ke sekolah dengan mengenakan seragam putih abu-abu. Memang awalnya terasa aneh mengenakan seragam ini tapi entah mengapa bangga juga rasanya. Setibanya di sekolah, aku hanya melihat wajah- wajah yang tidak kukenali sama sekali.

Hari pertama masuk sekolah diawali dengan upacara. Upacara ini sedikit berbeda dan memang rutin diadakan setiap tahunnya untuk menyambut siswa baru. Selepas upacara, aku melihat daftar pembagian kelas. Ku lihat namaku masuk dalam kelas X IPA 2. Kemudian aku langsung menuju kelas tersebut. Setibanya di kelas, aku duduk sendiri di barisan bangku ke-3 dari depan. Pada saat itu, memang belum ada satupun orang  yang kukenal. Namun tiba- tiba ada seorang anak perempuan yang menghampiriku dan mengajakku berkenalan. 

“ Hai, aku Mita. Siapa namamu? Bolehkah aku duduk di sebelahmu?” tanyanya.
Kemudian aku menjawab dengan senang hati
“ Hai Mita, aku Rena. Tentu saja boleh, silahkan.” 

Kemudian semenjak itu aku dan Mita menjadi akrab, bahkan sangat akrab. Hari demi hari berlalu, aku dan Mita menikmati Masa Orientasi Siswa. Walaupun kadang merasa lelah dan juga takut karena kakak- kakak osis yang lumayan galak, juga banyaknya tugas yang kadang aneh bahkan sampai hukuman bagi yang melanggar peraturan.

Tak terasa Masa Orientasi Siswa telah usai. Kini kegiatan belajar mengajar dilakukan normal seperti pada umumnya. Sudah mulai banyak tugas, ulangan harian, kegiatan organisasi, dan sebagainya.
  
Aku mulai merasakan hal yang yang tidak seperti biasanya. Mita sahabatku, dia memang anak yang pintar dan rajin. Dia memiliki semangat yang tinggi dalam belajar ketika akan menghadapi ulangan, juga  mengerjakan tugas- tugas dengan semaksimal mungkin dan tepat waktu. Tapi akhir- akhir ini entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal diantara kita. Seperti ada jarak yang seakan- akan memisahkan kita. Mita lebih fokus dan meperhatikan tugas- tugasnya daripada berbincang dan bercanda denganku. Aku tau tugas memang penting dan harus dikerjakan dengan maksimal agar mendapat nilai yang maksimal pula. Tapi setidaknya dia meluangkan waktunya sebentar untuk mengobrol denganku. Beberapa hari ini kami jarang mengobrol bersama hanya sekedar menyapa. Aku mencoba berbicara dengannya, tapi dia selalu menjawabnya dengan singkat. Aku mencoba bersabar dan berusaha memahami kondisinya. Walaupun memang terasa sakit.

Hari demi hari berlalu, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Tiba- tiba ada seseorang yang datang menghampiriku, ya itu adalah sahabatku Mita. Ia meminta maaf kepadaku atas apa yang ia perbuat. Ia sangat menyesal karena tak mengacuhkanku selama ini. aku memaafkannya dengan sepenuh hati karena aku ingin semua kembali seperti dulu lagi. Aku bersyukur kini sahabatku Mita telah kembali bersamaku. Seperti dahulu.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah tercinta ini, meninggalkan masa- masa indah yang penuh kenangan ini, meninggalkan guru- guru yang telah membimbingku selama kurang lebih 3 tahun ini meninggalkan masa- masa indah yang kulalui bersama teman- temanku. Serta berpisah dengan teman- teman yang kusayangi, terutama sahabatku Mita. 

Hari ini adalah hari yang menegangkan bagiku. Bahkan bagi semua temanku. Karena ini adalah hari  penentuan kelulusan. hasil Ujian Nasional telah dibagikan, bersyukur karena aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan begitu pula dengan Mita. Senang rasanya, dan kami pun menangis terharu. Perjuangan kami selama ini telah terbayarkan oleh hasil UN yang cukup memuaskan. Tapi disisi lain aku juga merasa sedih karena akan berpisah dengan Mita sahabatku. Karena aku dan Mita akan mengambil jurusan yang berbedadan sekolah yang berbeda.

Hari perpisasahan pun tiba. Sangat sedih rasanya apabila mengingat kembali masa- masa itu. Dari awal masuk sekolah belum mengenal siapapun, mulai mengenal beberapa teman dan guru walaupun masih canggung, menjadi akrab bahkan sangat akrab, tugas- tugas, masalah yang datang lalu pergi kemudian datang lagi, berjuang untuk menempuh ujian sekolah dan ujian nasional, dan kini tiba saatnya untuk berpisah dengan semua itu. Berat dan tak ingin rasanya akan meninggalkan semua itu. masa yang paling indah dan tak terlupakan. 

Memang masa- masa itu kini sudah berlalu. Tapi kenangan- kenangan itu akan tetap ada dan terkenang selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Kotak Karel

Berubah Sudah Semua