Sani



   Hujan deras membungkus desa. Desa terpencil di tepi sawah, jauh dari kata ramai. Awan gelap menggumpal – gumpal, petir sesekali menyambar. Dingin. Itu yang Sani rasakan sekarang. Ditariknya selimut untuk menghangatkan tubuh sembari menatap hujan lewat jendela yang hampir rapuh. Dan akhirnya Sani pun terlelap hangat.

  Silau matahari masuk melalui celah - celah atap yang berlubang dan membuat gadis cilik itu terbangun dari tidur nyenyaknya.

   Sani memang terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Bukan dari keluarga yang selalu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekolah saja bayarnya harus menyicil. Bahkan, apabila orang tua sani sedang tidak ada uang, sani harus merelakan tertinggal pelajaran selama orang tua sani belum membayar SPP sekolah. Meski begitu, sani tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia alami dan kerjakan. Kadang sani juga ikut membantu pekerjaan orang tuanya. Ia justru sangat bersyukur memiliki orang tua yang pekerja keras dan sangat sayang padanya.

Ayah sani bekerja sebagai tukang pungut sampah. Setiap hari ayahnya bekerja tanpa lelah demi menghidupi dua orang yang sangat berharga baginya. Sani tidak pernah malu mempunyai sosok ayah yang bekerja sebagai perongsok. Ia bahkan menyempatkan waktu sepulang sekolah untuk membantu pekerjaan ayahnya.

Hari ini adalah hari minggu. Biasanya, sani membantu ibunya untuk berjualan rujak keliling di sekitar desa. Tetapi sejak seminggu yang lalu, mereka sementara tidak berjualan dahulu. Ibu sani akhir – akhir ini sering sakit – sakitan. Selain karena faktor usia, ibu sani juga mengidap penyakit jantung.  Sedangkan ayah sani, sejak subuh sudah mulai memungut sampah.

Sore ini, sani berencana untuk kembali berjualan rujak. Lalu setelah sani selesai mengurusi ibunya, ia meminta izin untuk berjualan.

“ Ibu, sani mau jualan dulu ya. Kasihan ini buah – buahnya udah di anggurin lama. Kan rezeki gaboleh di buang – buang bu hehe.” Ucap sani lembut kepada ibunya yang sedang tiduran di ranjang.

“ Duh sani, maaf yah ibu jadi ngerepotin kamu....uhuk uhuk.” Jawab ibu sani lemas di tambah batuk yang cukup keras.

“ Ya ampun bu...minum dulu.. Aku gakpapa kok bu.” Sahut sani sambil memberi ibunya minum lalu tersenyum.

“ Yasudah....hati – hati ya san....” Ucap ibu sani dengan nada parau sambil tersenyum haru.
Lalu sani pun mengangguk dilanjutkan menciumi tangan ibunya dan berlalu pergi.

 Sani mulai mengayuhkan sepeda yang mengangkut rujaknya, mengelilingi desa.  Di pertengahan jalan, terkadang ada orang yang membeli beberapa rujak sani. Lama – kelamaan banyak yang mengkrubungi sani untuk membeli rujaknya. Maklum, di desa terpencil makanan sangat terbatas. Harganya pun sangat terjangkau. Jadi, rujak tak masalah buat camilan sore hari.

 Setelah rujaknya ludes terjual, sani mengayuhkan sepedanya dengan penuh semangat menuju rumah. Karna ia mau menunjukan kepada ibunya bahwa rujaknya terjual semua tidak ada yang tersisa. Tetapi saat hendak sampai rumah, ia tiba-tiba merasa pusing dan matanya berkunang – kunang. Tubuh sani mulai melemas untuk mengayuh. BRAKKKK! Sani beserta sepedanya jatuh tersungkur. Sani tidak sadarkan diri.

Semua terasa gelap, kepalanya berkunang – kunang. Sambil menahan rasa sakit di kepala, sani mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. 

“ Aw...” Rintih sani keras saat tidak sengaja menyentuh lututnya sendiri yang terluka.
Mendengar suara sani, ayahnya yang sedang menyiapkan makanan langsung berlari kecil menuju kamar sani.

“ Syukurlah nak, kamu sudah bangun. Kamu lama sekali tidurnya, membuat ayah dan ibu menjadi khawatir. “ Ucap ayah sani sembari memeluk hangat gadis kecilnya.

“ Emangnya aku tidur berapa lama yah? kok tiba – tiba sani disini yah?” Tanya sani sambil memijat kepalanya sendiri.

“ Kamu pingsan saat sedang berjualan. Lalu, Pak Kades membawamu pulang. Sudah 3 hari kamu ngga bangun nak.” Jawab ayah sani sambil mengelus rambut sani dan membendung air matanya agar tidak terjatuh.

“ Oh begitu. Lama sekali ya sani pingsannya. Hehehe maafkan sani ya yah, sani selalu merepotkan ayah dan ibu. Eh, oiya ibu kemana yah? Kok rumah sepi sekali? Apakah ibu sudah pulih yah? “ Tanya sani panjang lebar.

Sambil menarik nafas panjang, ayah sani mencoba menahan rasa sesak di dalam dada. Ia tak kuat bila harus menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Tapi apa boleh buat, ayah sani harus bercerita kepada gadis kecilnya.

” Ibu... ibu sudah pergi. Pergi untuk selama – lamanya nak. Sejak ia tahu bahwa kamu ditemukan tidak  sadarkan diri saat dibawa Pak Kades, ia langsung shock dan akhirnya tertidur untuk selamanya.” Ucap ayah sani sambil menangis haru dan memeluk sani.

1 detik
2 detik
3 detik

Sani langsung tak kuasa meneteskan air matanya. Ia menangis sekencang - kencangnya sampai meremas kaos milik ayah yang sekarang sedang memeluknya. Sani sangat tidak percaya akan hal ini. Ia merasa meyesal karna telah membuat ibunya telah tiada. Tapi, apalah daya ini semua sudah takdir. Sani siap tidak siap harus menerima semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Kotak Karel

Kenangan Masa SMA

Berubah Sudah Semua